AllahSWT berfirman yang tertuang di dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 103: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang
TafsirSurat Al-A'la Ayat 1 (Terjemah Arti) Paragraf di atas merupakan Surat Al-A'la Ayat 1 dengan text arab, latin dan artinya. Terdapat variasi penjelasan dari beragam mufassirun mengenai isi surat Al-A'la ayat 1, di antaranya sebagaimana termaktub: 1-5. Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi dari sekutu dan kekurangan dengan
Setiapperbuatan dan tindakan. manusia bergantung kepada usaha. dan ikhtiar manusia sendiri. Contohnya :- makan , minum , rajin. ,malas dan lain-lain. f Afal Manusia. IKHTIARI IJBARI. Sesuatu perkara yang berlaku atas kemahuan,pilihan dan kehendak manusia sendiri. Contoh:-makan , minum , membaca alquran berzikir dan lain-lain.
Jikaaf'alul khomsah dimasuki huruf nashob, maka dibuang nun akhirnya. Contohnya: اَنْ يَفْعَلَا, اَنْ تَفْعَلَا, اَنْ يَفْعَلُوْا, اَنْ تَفْعَلُوْا, اَنْ تَفْعَلِيْ Contohnya di dalam Al Quran, ada di bawah ya. Mengapa Fi'il Mudhari Menjadi Manshub? Fiil mudhari menjadi manshub, karena dimasuki oleh amil nawashib.
ContohKhutbah Jumat Singkat Terbaru: Amalan-amalan di 10
2fIYVmH. Oleh Kurniawan Nata Dipura Editor Saeful Ramadhan Menempel di badan ia bernama baju, ada dijendela bernama gorden, tergerai dikasur dipanggil seprai melekat dikaki, di debut celana, Baju, Gorden, Seprai dan Celana asalnya dari Kain, Kain tertenun dari Benang, dan benang asalnya dipintal dari KAPAS, ibarat meja, Lemari, Pintu, kursi, bangku, wujud dan nama saja berbeda namun semua terbuat dari KAYU lah asalnya. Adalah Ke-Esa-an Allah pada segala perbuatan. Ketahuilah oleh engkau wahai salik bahwa segala perbuatan apapun yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini pada hakikatnya adalah Af’al Perbuatan Allah ta’ala, sama saja perbuatan itu baik maupun jahat adalah perbuatan Allah jua. – Perbuatan baik, yaitu perbuatan yang baik pada rupa dan pada hakikatnya, seperti iman dan takwa. – Perbuatan Jahat, yaitu perbuatan yang jahat pada rupa tapi tidak pada hakikatnya, seperti kafir dan maksiat. Kafir dan maksiat pada hakikatnya baik juga karena terbit dari yang baik yaitu dari Allah. Dan tiap-tiap yang terbit dari Allah itu baik. Ingatlah bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini pasti ada manfaatnya, karena Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia. Salah satu contoh adalah Allah menciptakan nyamuk, dan nyamuk diciptakan hanya untuk berbuat jahat yaitu menghisap darah. Tapi walaupun hanya menghisap darah, nyamuk tetap mempunyai manfaat. “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu selain orang-orang fasik.” “Tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau.” Cara Musyahadah menyaksikan Tauhid Af’al adalah, yaitu Engkau syuhud pandang/saksikan dan diyakinkan di dalam hati bahwa segala perbuatan yang menurut kita baik dan jahat itu semua terbit dari Allah. Jadi kenalilah dan saksikanlah bahwa Allah ta’ala itulah pelaku dibalik segala af’al perbuatan yang terjadi di alam semesta ini. Dalil yang menunjukkan bahwa segala perbuatan itu terbit dari Allah dan tidak dari selain-Nya, yaitu; shoffat96; “Allah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.” Syekh sulaiman Al Jazuli rohimahullah menjelaskan dalam kitab dalailul khoirot, bahwa “Tidak ada dari seseorang dan dari seluruh hamba-Nya suatu perkataan, perbuatan, gerak dan diam melainkan sudah lebih dahulu pada ilmu pengetahuan Allah ta’ala, Qodho dan Qodrat ketentuan dan kehendak Nya.” “Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab laughul mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” Dan dalil-dalil lainnya; 841, 1192; “Allah ta’ala berfirman dengan perkataan yang sama, yaitu; Dan Allah meliputi apa yang kamu kerjakan.” “Tidaklah kamu yang melempar tetapi Allah-lah yang melempar ketika engkau melempar.” “Dialah Allah yang menjadikan kamu dapat berjalan didaratan.” “Yang telah mejadikan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku.” “Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” Dan sabda nabi Muhammad saw; “Laahaula wala quwwata illa billahil Aliyyil Adziim / Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.” Dan lagi sabda nabi saw; “Laa tataharroka dzarrotun illaa bi iznillah / Tiada bergerak suatu zarroh pun melainkan dengan izin Allah.” Dan sabda nabi saw; “Sesungguhnya Allah yang menjadikan semua pekerja dan pekerjaannya.” HR. Al Hakim. Dan suatu isyarat dari nabi kita Muhammad saw, yaitu tidak pernah mendo’akan kehancuran kaum Quraisy yang telah menyakiti dirinya. Hal ini karena beliau musyahadah memandang bahwa perbuatan itu dari Allah. Dan Allah berfirman kepada nabi Muhammad saw di “Dan janganlah engkau sedih oleh perkataan meraka. Sungguh, kekuasaan akan perkataan mereka itu seluruhnya milik Allah. Dia maha mendengar, maha mengetahui.” Apabila engkau senantiasa musyahadah menyaksikan yang seperti yang demikian ini dengan penuh keyakinan, niscaya engkau terlepas dari bahaya syirik khofi dan mendapat maqom wihdatul af’al yang artinya meng-Esa-kan Allah ta’ala pada segala perbuatan sehingga fana’ lenyap segala perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya, karena nyatanya perbuatan Allah yang Maha Nyata. Jadi, engkau saksikan dengan jelas bahwa segala wujud majazi ini hilang sirna dan lenyap tiada arti dibawah Nur Wujud Allah yang sebenarnya. Seperti tiada arti cahaya lilin yang dinyalakan dibawah Cahaya Wujud Matahari. Dari berbagai uraian ini, maka kita ketahui bahwa sama saja perbuatan itu baik ataupun jahat pada hakikatnya dari Allah ta’ala jua. Dalil yang menunjukkan akan hal ini didasarkan atas hadits nabi saw, di dalam do’a beliau; “Allahumma innii audzu bika minka / yaa Allah, Aku berlindung dengan Engkau dari Engkau.” HR. Abu Daud dari Ali bin Abi tholib Dan dalam riwayat lain nabi bersabda; “Allahumma inni audzu bika min syarri maa kholaq / Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang engkau jadikan.” Dan hal ini juga sesuai firman Allah “Qul a’udzu bi robbil falaq, min syarri ma kholaq / Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan yang Dia jadikan.” Maka kalau sekiranya kejahatan itu bukan dijadikan Allah, maka tidak mungkin nabi mengucapkan do’a demikian. Jadi, jelaslah bahwa perbuatan baik dan jahat pada hakikatnya dari Allah. Dan Dalil-dalil lainnya; Qs. Annisa’ 4 78; “Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh. JIKA MEREKA MEMPEROLEH KEBAIKAN, MEREKA MENGATAKAN “INI DARI ALLAH”, DAN JIKA MEREKA MENDAPAT KEBURUKAN MEREKA MENGATAKAN, “INI DARI ENGKAU”. KATAKANLAH SEMUANYA DARI ALLAH. MAKA MENGAPA ORANG-ORANG ITU ORANG-ORANG MUNAFIK HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI PEMBICARAAN INI SEDIKITPUN?” Qs. Al-A’rof 7131; “Kemudian apabila KEBAIKAN datang kepada mereka, mereka berkata, “ini adalah karena usaha kami”. Dan jika mereka mendapat KESUSAHAN, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. KETAHUILAH, SESUNGGUHNYA NASIB MEREKA DITANGAN ALLAH, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.” “Dan jika Allah menimpakan suatu Bencana keburukan/kejahatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki Kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan Kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya. Dia maha pengampun, maha penyayang.” “Mereka menjawab, kami mendapat nasib yang Buruk disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu. Dia berkata, “Nasibmu ada pada Allah, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji”. “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka manusia TIDAK ADA PILIHAN. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” “Katakanlah, siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki Bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu? Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? KAMILAH YANG MENENTUKAN KEHIDUPAN MEREKA DALAM KEHIDUPAN DUNIA, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” “Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.” “Tidak ada suatu Musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” Sebagian Arifbillah membuat perumpamaan untuk memahami hal ini, yaitu seperti; Wayang yang dimainkan oleh dalang dengan berbagai macam gerak. Jadi wayang itu tidak mempunyai perbuatan sendiri, dan berbagai macam gerak wayang itu adalah mazhar kenyataan dari dalang itu sendiri. Maka seperti itulah antara hamba dengan Tuhannya. Walaupun segala perbuatan, gerak dan kejadian pada hakikatnya adalah dari Allah jua, maka janganlah engkau melanggar syariat nabi kita Muhammad saw dan tetap teguhlah dalam Takwa mengerjakan segala yang diperintahkan Allah dan Rosul-Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Jadi janganlah sekali-kali menafsirkan bahwa gugur taklif syara’ tidak ada kewajiban hukum syariat. Apabila engkau beiktiqod berkeyakinan demikian, jadilah engkau kafir zindik. Na udzubillahi min dzalik. Oleh karena itu, istiqomahlah dalam melaksanakan syariat nabi Muhammad saw dan juga tetaplah engkau Musyahadah dengan mata hatimu secara terus menerus berkekalan bahwa segala Kebaikan dan Keburukan adalah dari Allah jua. Sehingga lepaslah engkau dari syirik khofi syirik yg halus tidak kelihatan. Apabila engkau memandang diri masih merasa ada suatu perbuatan pun, maka itulah syirik khofi walaupun engkau tidak berbuat syirik jalli syiri yang nyata. Allah ta’ala berfirman; “Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan masih dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan memandang Wujud dan perbuatan selain Allah.” Karena itulah sayyid umar bin Al Farid rohimahullah berkata; “Andaikata terlintas didalam fikiranku suatu kehendak yang lain dari Mu karena lalai lupa, maka aku sebut diriku ini dengan murtad”. Dan syekh Abu Abbas Al Mursi rohimahullah berkata; “Andaikata aku terhijab terlupa dari Tuhanku meskipun sekejap mata, maka tidaklah lagi aku termasuk manusia”. Jadi, engkau disebut musyrik apabila engkau tidak mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya. Dan jalan mukmin itu adalah memandang bahwa Tiada yang berbuat, yang hidup, dan yang Maujud dalam wujud ini hanya Allah ta’ala sendiri. Maka apabila engkau mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya barulah engkau disebut mukmin yang benar dan lepaslah engkau dari syirik khofi, serta keluarlah engkau dari yang disebut Allah dengan musyrik. Dan jadilah engkau Ahli Tauhid yang benar yang disegerakan surga di dalam dunia ini. Serta patutlah atas engkau dimuliakan oleh Allah dalam akhirat. Allah ta’ala berfirman; Qs. Arrohman46; “Dan dua surga bagi siapa saja yang takut saat menghadap Tuhannya.” Surga pertama adalah surga Musyahadah menyaksian Allah yang di dapat dari Ma’rifatullah di dunia ini. Surga kedua adalah surga Akhirat yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam alqur’anul karim. Syekh Al alimul Allamah Al Bahrur Ghoriq Marlan Abdullah ibnu Hijazi As Syarqowi Al Mishri rohimahullah, berkata; “Barang siapa yang telah memasuki surga ma’rifatullah di dunia ini, niscaya tiada berhasrat lagi kepada surga akhirat yang berupa bidadari, istana, dan segala sesuatu yang disana. Hasratnya hanya ingin sedekat-dekatnya pada hadirat Allah dan Rukyatullah melihat Allah. Maka nikmat yang paling tinggi di akhira adalah Rukyatullah, sebagaimana firman Allah; “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, melihat Tuhannya.” Jadi jauh sekali perbedaannya antara nikmat Rukyatullah melihat Allah dibandingkan nikmat seperti bidadari, istana, dan segala sesuatu yang ada disana. Begitu pula tentang Musyahadah menyaksikan Allah di dunia ini dalam arti ma’rifatullah yang telah terbuka pada hati orang-orang yang Arifbillah, itu hanya sebagian kecil saja dibandingkan dengan Rukyatullah di akhirat kelak. Walaupun demikian, niscaya mereka akan mendapatkannya karena mereka telah menyaksikan Allah di dunia ini. Seperti firman Allah “Barang siapa buta didunia ini, maka di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa mereka para Arifbillah telah mendapat jaminan dari Allah karena mereka tidak buta terhadap-Nya di dunia ini. Suatu perkataan dari Arifbillah Maulana syekh Abdul Wahab Sya’roni qoddasallahu sirrahu dalam kitab jawahirul wad daruri, ia menukil dari perkataan syekh Al Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rohimahullah, yaitu bahwa; Segala Akwan keadaan/kejadian ini adalah dinding yang mendidingi kita dari HAQ ta’ala. Padahal hanya HAQ ta’ala inilah yang berbuat dibalik hijab semua akwan ini. Seperti; bayang-bayang kayu di dalam air sungai yang seakan-akan merintangi jalannya perahu. Adapun perahu yang tidak mau melewatinya, karena menyangka itu kayu yang sebenarnya, maka ia telah terhijab. Jadi barang siapa terbuka hijab niscaya dilihatnya bahwa yang berbuat pada segala perbuatan itu adalah Allah ta’ala sendiri. Dan barang siapa tidak terbuka hijab, maka ia terdinding dari akwan ini, sehingga ia tidak mampu memandang Fa’il pelaku yang sebenarnya yaitu Allah. Makhluk Tuhan di dunia ini merupakan perwujudan kasih sayang-Nya, dan bukan kemarahan-Nya. Karenanya dunia tidak dilumuri dosa sebelumnya. Di dalam neraka-Nya, kenikmatan juga akan dirasakan oleh makhluk-Nya. Syekh Al Akbar Ibnu Arabi menerangkan bahwa kata Azab siksa berasal dari kata Adzb lezat, artinya bahwa dari siksa akan lahir kenikmatan. Ikan memang harus di air, sedang salamander harus berada dalam api, keduanya tidak mungkin bertukar tempat. Mereka bagaikan penderita penyakit kudis yang dikupas bagian terluar lukanya, di dalamnya masih akan ditemukan kenikmatan, dan mereka bagaikan seorang sakit yang memang harus minum obat pahit, untuk menghilangkan rasa sakit. Renungkanlah karena masalah ini indah sekali. Berkaitan dengan Tauhidul Af’al, Arifbillah maulana Quthubul syekh muhyidin Al Akbar Ibnu Arabi rohimahullah, menjelaskan tentang firman Allah ta’ala; “Allah setiap saat dalam kesibukan.” Hal ini berarti bahwa setiap saat alam semesta dan diri kita ini selalu mengalami perubahan, karena Allah setiap saat terus menerus sibuk dalam menciptakan sampai saat ini pun. “Akan tetapi kebanyakan manusia ragu terhadap ciptaan baru Pada saat kita terhijab belum mengetahui bahwa segala perbuatan itu dari Allah, kita menyangka bahwa setiap perbuatan itu dari kita dan untuk kita sendiri. Maka itu berarti, Allah memberi suatu cobaan dengan menyandarkan perbuatan itu kepada kita, sehingga kita menyangka bahwa kita yang berbuat. Dan apabila kita telah masuk kehadirat ihsan beribadah seakan-akan melihat Allah dan terbuka dinding hijab antara kita dengan Allah, niscaya kita lihat bahwa segala perbuatan itu sebenarnya terbit bersumber dari Allah ta’ala sendiri dan kita sebenarnya tidak melakukan suatu perbuatan pun. Hal ini seperti sabda nabi Muhammad saw; “Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil azhiim / Tidak ada daya upaya usaha dan kekuatan untuk berbuat kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.” Kemudian apabila kita sampai kepada Musyahadah ini, maka takwa lah kita dengan tetap istiqomah dalam pegangan pendirian syara’ yaitu Adab akhlak kita kepada Allah..
-Bismillahirrahmanirrahim- Assalamualaikum. Kaifa halukum? Diharapkan semua baik2 saja. Entri kali ini saya nak berkongsi sedikit nota PIM 3112, Pengajian Aqidah yang dipelajari pada semester yang lalu. Dah habis sem baru nak kongsi? Sebenarnya dah lama ingin berkongsi, tapi sekarang baru berpeluang untuk taip semula apa yang dipelajari. Gaya macam busy sangat je. Huuu~ Tapi xpe la kan, better late than never omputih cakap. ^_~ Semoga nota ini bermanfaat untuk adik2 junior dan kepada yang membacanya. ' *** [Af'alullah] Definisi • Setiap kejadian yang berlaku di alam ini berdasarkan dengan kehendak dan iradat Allah Taala. • Setiap manusia wajib beriman dan redha dengan segala ketetapan dan pelaksanaan Allah terhadap hambaNya. Kerana kuasa Allah adalah mutlak. Manusia juga wajib yakin dan percaya Allah melaksanakan segala-galanya dengan kuasa, ilmu, kehendak dan segala sifat kesempurnaanNya dan bukan secara sia-sia. Contoh • Kejadian siang dan malam • Bencana alam • Pasang surut lautan Dalil "Dan ingatlah tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main." Surah al-anbiya’ 16 Kekeliruan memahami konsep af’alullah Zaman Rasulullah hingga zaman ulama’ khalaf Umat Islam beriman pada qadha’ dan qadar tanpa ada persoalan. Mereka menerima Islam dengan hati yang ikhlas. Apabila empayar islam berkembang Berlaku perbahasan falsafah dan budaya lalu menimbulkan kekeliruan terhadap konsep af’alullah. Antaranya mengenai pergerakan makhluk atau manusia. Adakah setiap gerakan tersebut atau kemahuan untuk melakukan sesuatu dikira sebagai perbuatan yang dijadikan Allah atau lahir daripada kudrat dan kekuasaan manusia itu sendiri? Pendapat Ahli Sunnah Wal Jama’ah Allah memberi kuasa memilih kepada manusia berdasarkan kepada akal dan wahyu dalam melakukan sesuatu perkara atau perbuatan. Namun, berlakunya sesuatu perkara atau perbuatan itu adalah dengan izin Allah. "Dan kamu tidak dapat menentukan kemahuan kamu mengenai sesuatupun, kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan seluruh alam." Surah at-takwir 29 Ayat ini menunjukkan bahawa manusia mempunyai pilihan dan kehendak mereka sendiri dalam melakukan sesuatu perkara dan perbuatan yang dijadikan oleh Allah. Sekiranya Allah tidak menghendaki perkara itu terjadi, ia tidak akan terjadi dan itulah ketentuan yang ditakdirkan oleh Allah.[Af'alul Ibad] Definisi Setiap perbuatan dan tindakan manusia bergantung kepada usaha dan ikhtiar manusia • Makan • Minum • Melayari facebook Bahagian af’alul ibad • Ikhtiari Sesuatu yang berlaku atas kemahuan dan kehendak manusia itu sendiri seperti beribadah, makan, tidur. • Ijbari Sesuatu yang berlaku bukan atas kehendak dan kemahuan manusia itu sendiri seperti bersin, cacat anggota, warna berkenaan af’alul ibad • Ahli Sunnah Wal Jama’ah Allah swt menjadikan kudrat dan iradat kepada manusia, dan mereka diberi kuasa memilih untuk melakukan perkara tersebut dengan izin Allah swt. • Qadariah Manusia berkuasa penuh melakukan sesuatu perbuatan tanpa ada sebarang hubungan dengan Allah. • Mu’tazilah Manusia berkuasa penuh melakukan sebarang perbuatan dengan kudrat dan iradat yang diberikan oleh Allah swt. • Jabariah Semua perbuatan adalah dengan kehendak Allah swt semata-mata. Manusia tiada kuasa langsung dalam sesuatu perbuatan. *** Oppss panjang sangat dah ni. InshaaAllah, nota akan disambung pada entri seterusnya. Keep on reading! ' Mantap aqidah, kukuh agama. '
العÙÙˆ AL-‘AFUWW YANG MAHA PEMAAF DALIL Nama Allah Al’Afuw telah disebutkan oleh Allah didalam Al-qur’an pada beberapa tempat, diantaranya ذÙٰلÙÙƒÙ ÙˆÙÙ…Ùنْ Ø¹ÙØ§Ù‚ÙØ¨Ù بÙÙ…ÙØÙ’Ù„Ù Ù…ÙØ§ عÙÙˆÙ‚ÙØ¨Ù بÙÙ‡Ù ØÙÙ…ÙÙ Ø¨ÙØºÙي٠عÙÙ„Ùيْه٠لÙÙŠÙÙ†ØµÙØ±ÙÙ†ÙÙه٠اللÙÙÙ‡Ù Û— Ø¥ÙÙ†Ù٠اللÙÙÙ‡Ù Ù„ÙØ¹ÙÙÙوٌ٠غÙÙÙورٌ “Demikianlah barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita, kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Pengampun “. QS. Al-Hajj 60 MAKNA Al-‘Afuww bermakna superlatif yaitu bahwa Allah banyak memaafkan. Sedangkan kata Al-‘Afw berarti memaafkan dosa-dosa dan tidak membalas orang-orang yang berbuat salah. Al-Asma al-Husna 282 Al-‘Afuww adalah Dzat yang menghapuskan kejelekan serta mengampuni kemaksiatan. Makna ini lebih dekat kepada makna Al-Ghofur tetapi Al-‘Afuww lebih kuat dan mendalam lagi. Karena pengampunan itu mengisyaratkan kepada penutupan, sedangkan Al-‘Afwu mengisyaratkan kepada penghapusan, dan penghapusan dosa lebih mendalam maknanya daripada penutupan. Ini jika keduanya digandengkan dalam satu ucapan. Adapun kalau dipisahkan, maka salah satunya menunjukan akan makna yang lainnya. Fiqih Asmaul Husna 232 DO’A IBADAH Beberapa do’a ibadah yang dapat kita ambil pelajaran dari nama Allah Al-‘Afuww ini diantaranya adalah Allah menyuruh untuk memaafkan. Sebagai contoh Allah menyuruh Abu Bakar As-Shiddiq untuk memaafkan ketika beliau bersumpah untuk tidak memberi nafkah lagi kepada salah satu kerabatnya yang bernama Misthah bin Utsatsah setelah dia mencemarkan kehormatan anaknya, ‘Aisyah dalam kasus Haditsatul ‘Ifki menyebarnya berita dusta bahwa ‘Aisyah berselingkuh dengan seorang sahabat yang bernama Shofwan ketika keduanya pulang dari suatu peperangan. Tetapi Allah menjernihkan kasus ini sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nur ayat 11-26 bahwa Aisyah bersih dari tuduhan dusta tersebut. Kemudian Allah menurunkan ayat untuk menasehati Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu ÙˆÙÙ„Ù’ÙŠÙØ¹Ù’ÙÙوا ÙˆÙÙ„Ù’ÙŠÙØµÙ’ÙÙØÙوا Û— Ø£ÙÙ„ÙØ§ ØªÙØÙØ¨ÙÙون٠أÙÙ† ÙŠÙØºÙ’ÙÙØ±Ù اللÙÙÙ‡Ù Ù„ÙÙƒÙمْ Û— ÙˆÙØ§Ù„Ù„ÙÙه٠غÙÙÙورٌ رÙÙØÙيم..…. “…Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .†22 Maka setelah turun ayat ini, Abu Bakar memaafkan Misthah dan tetap memberikan nafkah kepadanya. Allah akan membalas maaf dengan maaf yang lebih besar kepada orang yang suka memberi maaf kepada orang lain. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 149 Ø£Ùوْ ØªÙØ¹Ù’ÙÙوا عÙÙ† سÙوء٠ÙÙØ¥ÙÙ†Ù٠اللÙÙÙ‡Ù ÙƒÙØ§Ù†Ù عÙÙÙÙˆÙ‹ÙØ§ Ù‚ÙØ¯Ùيرًا…….. “……. Atau memaafkan sesuatu kesalahan orang lain , maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha QS. An-Nisa 149 Imam As-Sa’di berkata Allah akan memaafkan dari keburukan badan kalian, harta kalian dan berpalingnya kalian dari-Nya, maka mohon maaflah kalian kepada-Nya, sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amalan yang telah dilakukannya. Barang siapa memaafkan orang lain karena Allah, maka Allah akan memaafkannya, dan barang siapa berbuat baik kepada orang lain, maka Allah akan berbuat baik kepadanya. Oleh karena itu Allah berfirman “Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa†yaitu Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahan hamba-hamba-Nya dan mengampuni dosa-dosa besar mereka, Allah akan membiarkan turun penutupnya terhadap mereka, kemudian Allah akan memaafkan mereka dengan pemaafan yang sempurna yang bersumber dari kekuasaan-Nya. Taisiir Kariim A-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannan 212 Do’a ibadah yang berikutnya adalah Allah mengampuni banyak dosa dan kesalahan. Jika Allah menyiksa manusia karena setiap kesalahan yang mereka lakukan, tentu Dia akan menghancurkan makhluk-Nya dan melenyapkan keberadaan mereka. Sebagaimana firman-Nya ÙˆÙÙ„Ùوْ ÙŠÙØ¤ÙاØÙذ٠اللÙÙه٠النÙÙØ§Ø³Ù Ø¨ÙØ¸ÙلْمÙÙ‡ÙÙ… Ù…ÙÙØ§ ØªÙØ±Ùك٠عÙÙ„ÙÙŠÙ’Ù‡ÙØ§ Ù…ÙÙ† Ø¯ÙØ§Ø¨ÙÙØ©Ù ÙˆÙÙ„ÙٰكÙÙ† ÙŠÙØ¤ÙØÙÙØ±ÙÙ‡Ùمْ Ø¥ÙÙ„Ùىٰ Ø£ÙØ¬ÙÙ„Ù Ù…ÙÙØ³ÙمًÙÙ‰ “ Andai Allah menghukum manusia kerena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya dimuka bumi sesuatu pun dari makhluk tetapi Allah mengakhirkan mereka sampai pada waktu yang ditentukan†61 Tetapi karena maaf-Nya yang besar, Allah menutupi dosa hamba-hamba-Nya didunia, tidak membukakannya didepan umum, tidak menyiksa mereka secara langsung ketika melakukan dosa, dan akan menutupi sebagian besar dosa hamba-hamba-Nya diakhirat kelak. Maha Suci Allah, sungguh Agung dan mulianya Dia. Sungguh agung maaf dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah Al-‘Afuww menjadikan maaf dari seseorang kepada orang lain dalam kondisi dia mampu untuk membalas kesalahan orang tersebut kepadanya sebagai perkara yang paling dekat dengan ketaqwaan. Sebagaimana firman-Nya ÙˆÙØ£ÙÙ† ØªÙØ¹Ù’ÙÙوا Ø£ÙÙ‚Ù’Ø±ÙØ¨Ù Ù„ÙلتÙÙقْوÙىٰ…… “…Dan maaf kalian lebih dekat dengan ketaqwaan….†QS. Al-Baqarah 237 Maka tidaklah seseorang memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat salah atau jahat kepadanya dalam kondisi dia mampu untuk membalasnya baik secara kekuatan ataupun kedudukan melainkan ia akan mendapatkan kemuliaan. Karena maaf itu merupakan jalan menuju kemuliaan, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda وما زاد الله عبدا بعÙÙˆ Ø¥Ù„Ø§Ù Ø¹Ø²ÙØ§ “ Dan tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba yang pemaaf, melainkan HR. Muslim 6757 DO’A MASALAH Diantara do’a permohonan yang dapat kita amalkan dengan nama Al-‘Afuww ini adalah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada ‘Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah apa yang harus diucapkan oleh seseorang ketika dia mendapatkan malam lailatul qodar pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan? Maka Rasulullah mengajarkan kepada ‘Aisyah agar memperbanyak do’a berikut اللهم إنك عÙÙˆÙ ØªØØ¨ العÙÙˆ ÙØ§Ø¹Ù عني “ Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah HR. At-Tirmidzi 3855, Ibnu Majah 3982 dan di shahihkan oleh Al-Albani Kemudian salah satu do’a yang diajarkan Rasulullah ketika beliau bangun malam adalah اللهم أعوذ برضاك من Ø³ØØªÙƒ ÙˆØ¨Ù…Ø¹Ø§ÙØªÙƒ من عقوبتك “ Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan ridho-Mu dari benci-Mu dan dengan maaf-Mu dari HR. Muslim 486 Demikian semoga bermanfaat. Washollallahu ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa’ala Alihi Wasohbihi Wasallam. Penulis Adep Baehaki, Lc
contoh af al allah